Jam Unik yang Berusia 150 Tahun....?

279px-Clock_Tower_-_Palace_of_Westminster,_London_-_September_2006-2

LONDON – Big Ben bukanlah menara jam biasa. Meski ada puluhan menara jam lain di dunia yang lebih besar maupun lebih indah, tak bisa dimungkiri bahwa Big Ben adalah menara jam paling terkenal di dunia.

Sebenarnya Big Ben bukan nama menara maupun jam raksasa itu. Big Ben adalah julukan bagi lonceng raksasa seberat 14,5 ton yang tergantung di puncak menara itu dan setiap jam berdentang mengeluarkan bunyi unik, yang oleh warga Inggris disebut “bong”. Namun, banyak orang, termasuk warga Inggris sendiri yang menganggap Big Ben adalah nama menara jam yang terletak di ujung Istana Westminter, London.

Bukan cuma keunikan suara yang membuat jam itu terkenal. Piringan jam menara Istana Westminter itu sebenarnya cukup besar untuk meraih predikat jam muka empat terbesar di dunia, tapi gelar itu direbut oleh Menara jam Allen Bradley di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, pada 1962. Meski demikian, Big Ben tetap mempertahankan posisi sebagai menara jam empat sisi berdentang terbesar di dunia.

Kini Big Ben telah berusia 150 tahun. Untuk memperingatinya, sepanjang 2009 ini Parlemen Inggris menggelar perayaan setahun penuh. Perayaan ini tak terbatas bagi lonceng besar buatan Whitechapel Bell Foundry itu, namun juga jam besar dan menaranya sebagai satu kesatuan. “Tahun 1859 adalah awal bagi ketiga elemen itu ketika menara jam selesai, Great Clock mulai beroperasi pada 31 Mei dan Great Bell memperdengarkan dentangnya untuk pertama kali pada 11 Juli.”

Kini menara jam berlonceng yang berada di gedung parlemen Inggris itu menjadi landmark paling favorit di Inggris. Alan Hughes, Direktur Whitechapel Bell Foundry, menyatakan tak aneh jika banyak orang mengunjungi dan mendengarkan dentang Big Ben. “Big Ben mungkin lonceng paling terkenal di dunia,” ujarnya. “Ketika mendengar Big Ben, Anda tak mungkin salah menebak bahwa itu bunyi Big Ben. Itu bukan sekadar lonceng besar biasa. Ini Big Ben. Suaranya unik.”

Keunikan suara itu sebenarnya tak disengaja. Suara “bong” yang terdengar itu terjadi karena ada retakan pada tubuh genta. Hantaman palu yang keras memang bisa membuat lonceng retak, bahkan genta pertama Big Ben retak parah ketika uji coba. Lonceng pertama itu akhirnya dipotong dan dilumerkan pada 1858 dan dicetak ulang menjadi Big Ben yang saat ini tergantung di puncak menara.

Meski retak dan sudah uzur, Big Ben diperkirakan masih bisa terus berdetik. “Tak ada alasan mengapa Big Ben tak bisa abadi,” kata Mike McCann, penanggung jawab jam besar yang menjadi ikon kota London itu.

Salah satu tugas McCann sebagai Keeper of The Great Clock atau penjaga jam Big Ben adalah menjaga keakuratan jam itu. Tiga kali dalam sepekan, tiap Senin, Rabu, dan Jumat, dia harus memutar jam dan menambah atau mengurangi koin penny dari pendulum.

Ketepatan waktu Big Ben memang amat terkenal, tapi daya tahan jam tersebut beberapa kali rontok juga. Dalam 150 tahun Big Ben beberapa kali terhenti, entah karena salju, kegagalan mekanis. Bahkan pada 1949, sekelompok burung jalak pernah menyabotase Big Ben dan membuatnya berhenti dengan hinggap beramai-ramai pada jarum detiknya.

Meski kerap menghadapi masalah, jarum jam Bin Ben terus berdetik dan loncengnya terus berdentang sampai hari ini. “Sebuah kehormatan untuk memeliharanya,” kata McCann. “Kita hidup dalam komunitas yang dengan mudah membuang segala sesuatu dan ini adalah sesuatu yang yang akan tetap bertahap sampai ratusan tahun.” TJANDRA DEWI | BIGBEN | CNN | TIMES

Big Ben

Dunia mengenal jam besar dari Istana Westminster di London dengan nama Bin Ben. Jam ini pertama kali aktif berdetak pada 31 Mei 1859. Sejak saat itu, jam bermuka empat ini telah menjadi ikon Inggris dan keakurasiannya terkenal sampai ke seluruh dunia.
# Menara jam: Dirancang oleh Charles Barry dan Augustus Pugin
# Tinggi: 96 meter

Lonceng

LONCENG BESAR
Bersama jam dan menaranya, lonceng besar ini juga dijuluki “Big Ben”. Julukan itu mungkin berasal dari nama Benjamin Hall, politisi sekaligus First Commissioner of Works pada masa menara jam itu dibuat.

Lonceng yang kini terpasang adalah genta kedua. Lonceng pertamanya retak ketika dites. Lonceng hasil cetakan kedua, 2,5 ton lebih ringan daripada lonceng pertama, pertama kali berdentang pada Juli 1859.
Berat: 13,7 ton
Tinggi: 2,2 meter
Diameter: 2,7 meter
Berat palu: 200 kilogram

LONCENG QUARTER
Setiap seperempat jam, empat genta kecil berdentang memainkan komposisi musik Messiah, karya terbesar George Frideric Handel:
All through this hour
Lord be my guide
that by Thy power
No foot shall slide
# Fly Fans: Rem angin mengatur penurunan beban
# Beban
# Pendulum

Muka Jam
Setiap jam terletak pada kerangka besi tempa berdiameter 7 meter dan memiliki 312 kepingan kaca opal.

Jarum jam
- Panjang: 2,7 meter
- Berat: 300 kilogram
- Material: gun metal, sejenis logam campuran perunggu

Jarum detik
Panjang: 4,2 meter
Berat: 100 kilogram
Material: Lempengan tembaga

Pemberhentian Great Clock

1962: Dentang jam pada tahun baru terlambat 10 menit karena salju yang menumpuk pada jarum jam.

1976: Jam dimatikan selama 26 hari dalam sembilan bulan setelah mekanisme dentangannya mengalami kerusakan karena logamnya aus.

2005: Mekanisme jam berhenti selama dua hari karena pelaksanaan inspeksi terhadap tuas rem.

2007: Mekanisme jam diganti menggunakan motor listrik selama proses pemeliharaan selama enam bulan. Piringan jam dibersihkan dan diperbaiki untuk persiapan menyambut perayaan 150 tahun Big Ben.

Mekanisme Great Clock
Jam ini digerakkan oleh gravitasi, yang terdiri atas tiga “train” atau roda gigi, yaitu Going, Chime, dan Strike. Setiap roda gigi itu terdiri atas silinder yang terhubung pada beban yang menggantung ke bawah menggunakan kawat baja. Ketika beban turun, silinder akan berputar dan menggerakkan jarum dan lonceng lewat serangkaian roga gigi, kawat, dan tuas.

Dibangun oleh pembuat jam Edward Dent berdasarkan desain yang dirancang oleh pengacara dan horologist amatir, Edmund Beckett Denison, dengan bimbingan dari George Airy, seorang astronom kerajaan.

Train Going
Menggerakkan jarum jam melalui roda gigi yang dioperasikan oleh tuas tunggal.

Train ini dikendalikan oleh Gravity Escapement kaki tiga ganda, yaitu sebuah mekanisme pengatur gerakan roda dan memasok impuls energi periodik kepada pendulum atau beban penyeimbang.

Denison melakukan terobosan yang membuat impuls ke pendulum tidak diberikan oleh escape wheel, seperti yang terjadi pada deadbeat escapement, melainkan melalui gaya gravitasi dari kedua tangan.

Invensi ini membebaskan pendulum dari friksi sehingga menjamin akurasi.

Escape wheel
Escape wheel : Roda gigi berputar yang secara periodik tersambung dan terlepas oleh jangkar dalam sebuah escapement.

Secara bergantian pendulum menyentuh satu dari kedua tangan setiap dua detik, mengeluarkan beban escape.

Tangan pengunci kemudian jatuh ke belakang karena dipengaruhi gravitasinya sendiri, menumbuk pendulum agar tetap berayun.

Dimensi Mekanisme
Panjang: 4,7 meter
Lebar: 1,4 meter
Berat: 5 ton
Material bingkai: balok besi tempa

- Silinder Strike Train
- Silinder Going Train
- Silinder Chime Train

CHIME TRAIN
Roda gigi ini membunyikan empat genta quarter melalui kawat baja yang terhubung ke palu lonceng.
- Setiap 15 menit, tangan pengangkat jatuh ke atas segmen roda yang relevan. Panjang segmen menentukan panjang rangkaian dentang.

STRIKE TRAIN
Membunyikan genta jam melalui tumbukan beban satu ton yang tergantung di bawahnya.

Beban yang jatuh menggerakkan silinder menarik tali baja yang terhubung ke palu lonceng.

Pendulum
Panjang: 4,4 meter
Berat: 310 kilogram

Pengatur jam:
Koin penny tua yang ditempatkan di atas langkan mengubah pusat massa pendulum. Menambah atau mengurangi satu penny mengubah kecepatan jam sampai 0,4 detik per hari.

Pemeliharaan
Jam diputar secara manual dengan tangan tiga kali dalam sepekan. Perlu lebih dari satu jam untuk memutar jam tersebut karena tidak mungkin untuk memutarnya saat jam berdentang. GRAPHIC NEWS

sumber : Koran Tempo